Pelepah Pisang Melawan Kemarau, Cara Derek Merauga Menjaga Tembakau Negeri Fakfak

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 28 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pelepah Pisang Melawan Kemarau, Cara Derek Merauga Menjaga Tembakau Negeri Fakfak

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Matahari musim kemarau menyengat kebun-kebun di Fakfak. Tanah cepat kehilangan air. Daun-daun tanaman pun lebih mudah layu ketika panas datang tanpa jeda.

Namun, di tengah kondisi itu, Derek Merauga memilih tidak menyerah.

Di kebunnya, ia bersama Mama Eva Hegemur tetap merawat tanaman tembakau negeri yang tumbuh di antara tanah yang mulai mengering. Tidak ada teknologi mahal. Tidak pula peralatan modern yang rumit. Yang digunakan justru sesuatu yang mudah ditemukan di sekitar kebun: pelepah pisang.

Pelepah itu diletakkan di sekitar tanaman tembakau yang masih muda. Fungsinya sederhana, tetapi penting. Menahan sebagian paparan panas matahari yang langsung mengenai tanah sekaligus membantu menjaga kelembapan di sekitar tanaman.

Cara tersebut merupakan pengetahuan sederhana yang telah lama dikenal para petani. Di tengah kemarau, ketika penguapan berlangsung lebih cepat dan kebutuhan air tanaman meningkat, pelepah pisang menjadi salah satu bentuk adaptasi yang lahir dari pengalaman.

Bagi Derek, merawat tembakau pada musim kemarau memang membutuhkan kesabaran.

Pelepah pisang tidak serta-merta menyelesaikan persoalan kekurangan air. Tanaman tetap harus dipantau. Penyiraman harus dilakukan secara rutin. Setiap tanaman harus diperhatikan agar tidak menyerah lebih dulu pada panas dan kekeringan.

Di situlah ketekunan petani diuji.

Merawat tanaman, terutama ketika cuaca tidak bersahabat, bukan sekadar menunggu hasil panen. Ada pekerjaan yang dilakukan setiap hari. Mengamati daun, memperhatikan kondisi tanah, memastikan tanaman memperoleh air, hingga mencari cara agar tanaman muda tetap mampu bertahan.

Dari kebun sederhana itu, Derek dan Mama Eva memperlihatkan bahwa adaptasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang mahal.

Sumber daya yang tersedia di sekitar kebun pun dapat dimanfaatkan. Pelepah pisang yang mungkin dianggap sebagai sisa tanaman, di tangan petani justru menjadi bagian dari upaya melindungi tembakau dari tekanan musim kemarau.

Upaya itu menjadi semakin penting karena tembakau dan sirih saat ini memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan. Permintaan masyarakat tetap ada dan harga kedua komoditas tersebut dinilai cukup baik.

Peluang tersebut, menurut Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmorojati, ST., MT., perlu dijawab dengan kesungguhan petani dalam mempertahankan tanaman.

Saat mengunjungi kebun tembakau milik Derek Merauga, Widhi memberikan apresiasi terhadap cara sederhana yang dilakukan Derek dan Mama Eva dalam menghadapi kondisi kemarau.

Menurut dia, apa yang dilakukan keduanya menunjukkan bahwa petani dan pekebun memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan memanfaatkan pengetahuan lokal serta sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Saat ini tembakau dan sirih memiliki permintaan pasar yang cukup tinggi dan harganya juga cukup baik. Karena itu, tanaman ini harus kita pertahankan agar tetap tumbuh dan bisa dipanen. Apa yang dilakukan Bapak Derek dengan memanfaatkan pelepah pisang merupakan cara tradisional yang patut kita apresiasi dan dapat menjadi contoh bagi petani pekebun lainnya,” kata Widhi.

Bagi Widhi, apa yang dilakukan Derek tidak hanya menarik karena kesederhanaannya. Praktik tersebut juga memperlihatkan bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah perkembangan teknologi pertanian dan perkebunan.

Kemajuan teknologi, kata dia, tidak harus membuat pengetahuan yang diwariskan para pendahulu ditinggalkan.

Justru sebaliknya, pengalaman lokal yang telah terbukti membantu petani menghadapi kondisi alam dapat dikembangkan dan dipadukan dengan teknik budidaya yang lebih baik.

Dengan cara itu, petani tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tetap menjadi penjaga pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman panjang mereka dalam membaca alam.

Widhi juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah meninggalkan komoditas perkebunan yang memiliki nilai ekonomi dan sosial.

Terlebih, bagi masyarakat Fakfak, tembakau negeri bukan semata-mata tanaman yang ditanam untuk kemudian dijual.

Komoditas ini memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat. Tembakau dan sirih telah lama menjadi bagian dari kebutuhan sosial, interaksi masyarakat, serta berbagai aktivitas dan tradisi yang hidup di tengah warga.

Karena itu, mempertahankan tanaman tembakau berarti pula menjaga ketersediaan salah satu komoditas yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial dan budaya.

Tantangan terbesarnya kini adalah perubahan kondisi cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Musim kemarau dapat datang dengan suhu yang lebih panas. Tanah lebih cepat kehilangan kelembapan. Tanaman muda menjadi kelompok yang paling rentan.

Dalam kondisi seperti itulah, kreativitas dan ketekunan petani menjadi penting.

Pelepah pisang yang digunakan Derek mungkin terlihat sederhana. Namun, dari cara sederhana itu tersimpan sebuah pelajaran tentang kemampuan beradaptasi.

Petani tidak selalu harus menunggu bantuan atau teknologi baru untuk menghadapi setiap persoalan. Lingkungan sekitar dapat menjadi sumber solusi. Pengalaman para pendahulu dapat menjadi pengetahuan. Dan ketekunan dapat menjadi modal utama untuk mempertahankan tanaman hingga masa panen.

Kebun tembakau Derek Merauga barangkali tidak luas. Tetapi dari sana muncul sebuah gambaran tentang perjuangan yang lebih besar.

Ketika kemarau mengancam tanaman, Derek dan Mama Eva tidak memilih membiarkan tembakau layu. Mereka mencari cara. Pelepah pisang dimanfaatkan. Air diberikan secara rutin. Tanaman terus dijaga.

Sebab bagi seorang petani, menyerah sebelum panen bukanlah pilihan. Dari pelepah pisang, tumbuh cara sederhana untuk menghadapi panas. Dari ketekunan, muncul harapan akan panen.

Dan dari sebuah kebun kecil di Fakfak, Derek Merauga bersama Mama Eva Hegemur memperlihatkan satu pesan yang sederhana, tetapi penting: ketika alam berubah dan tantangan datang, petani pun harus belajar beradaptasi tanpa kehilangan pengetahuan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
 

Writter & Editor : Den