Dari Pariwisata, Perikanan, Rumput Laut hingga Kelapa: Pemkab Maluku Tenggara Ajukan Dukungan Kemendesa PDTT untuk Mengubah Potensi Desa Menjadi Kekuatan Ekonomi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 30 September 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Dari Pariwisata, Perikanan, Rumput Laut hingga Kelapa: Pemkab Maluku Tenggara Ajukan Dukungan Kemendesa PDTT untuk Mengubah Potensi Desa Menjadi Kekuatan Ekonomi

Dari Pariwisata, Perikanan, Rumput Laut hingga Kelapa: Pemkab Maluku Tenggara Ajukan Dukungan Kemendesa PDTT untuk Mengubah Potensi Desa Menjadi Kekuatan Ekonomi

JAKARTA Kabarsulselindonesia.web.id  — Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara mendorong percepatan pembangunan ekonomi berbasis desa dengan menempatkan potensi sumber daya alam, penguatan sumber daya manusia, kelembagaan ekonomi, serta konektivitas sebagai fondasi utama pembangunan.

Gagasan tersebut dipaparkan dalam materi audiensi Bupati Maluku Tenggara bersama Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) di Jakarta, 28 September 2026. Fokus utamanya adalah memperoleh dukungan pemerintah pusat untuk mempercepat pengembangan ekonomi di 190 desa di Kabupaten Maluku Tenggara.

Dalam materi tersebut, pembangunan ekonomi desa diarahkan pada lima pokok bahasan, yakni potensi kawasan dan sumber daya alam, arah ekonomi desa, pengembangan SDM desa, insentif pemerintah, serta kebutuhan percepatan.

Empat sektor menjadi tumpuan ekonomi desa

Pemkab Maluku Tenggara memetakan sedikitnya empat sektor yang dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi desa, yakni pariwisata, perikanan, rumput laut, dan pertanian.

Di sektor pariwisata, Kabupaten Maluku Tenggara mencatat 44.945 kunjungan wisatawan pada 2025, terdiri atas 34.970 wisatawan domestik dan 9.975 wisatawan mancanegara. Daerah ini memiliki tujuh destinasi eksisting dan 44 objek potensial, dengan rata-rata lama tinggal wisatawan antara empat hingga lima hari.

Potensi tersebut juga diperkuat dengan sejumlah desa wisata, antara lain Ngilngof, Letvuan Paradise, Soinrat, Ohoililir, Letman dan Rumadian, yang masing-masing memiliki daya tarik berbasis alam, budaya, sejarah maupun lingkungan.

Namun, materi audiensi juga mengakui masih terdapat sejumlah kendala yang harus diselesaikan. Persoalannya meliputi aksesibilitas dan biaya perjalanan, keterbatasan sarana serta pengelolaan destinasi, hingga kebutuhan skema kerja sama yang lebih jelas terkait tanah ulayat dan investasi.

Karena itu, pengembangan pariwisata diarahkan melalui penguatan kawasan prioritas Ngiar Varat, kolaborasi pemerintah-swasta-masyarakat, penyediaan produk desa untuk kebutuhan kuliner wisata melalui koperasi desa, serta penguatan promosi dan kemitraan.

Laut luas, pemanfaatan masih rendah

Sektor perikanan menjadi salah satu potensi terbesar yang ingin didorong pemerintah daerah.

Maluku Tenggara berada pada persimpangan tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP), yakni WPP-714 Laut Banda, WPP-715 Laut Seram dan WPP-718 Laut Arafura.

Dalam materi audiensi disebutkan potensi perikanan tangkap mencapai 1.499.668, sedangkan produksi 2025 tercatat 98.451, atau baru sekitar 6,6 persen dari potensi yang tersedia.

Angka tersebut memperlihatkan adanya ruang pengembangan ekonomi yang sangat besar, sekaligus menunjukkan bahwa peningkatan produksi harus dibarengi dengan penguatan sarana, pengolahan, pemasaran dan rantai dingin agar nilai ekonomi tidak berhenti pada hasil tangkapan mentah.

Rumput laut: potensi 8.862 hektare

Komoditas rumput laut juga ditempatkan sebagai salah satu sektor penting ekonomi masyarakat pesisir.

Data dalam materi audiensi mencatat luas kawasan budidaya rumput laut mencapai 8.862,23 hektare, sementara areal yang telah termanfaatkan sekitar 1.380,62 hektare.

Produksi rumput laut pada 2024 tercatat 46.788,86 ton dengan jumlah pembudidaya mencapai 2.398 orang. Harga di tingkat petani berada pada kisaran Rp13.000 hingga Rp30.000 per kilogram.

Tantangannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat rantai pasar dan nilai tambah agar pembudidaya memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

Kelapa menjadi kekuatan pertanian Maluku Tenggara

Di sektor pertanian, kelapa menjadi salah satu komoditas strategis. Materi Pemkab menyebut luas areal kelapa mencapai 23.209 hektare, terbesar di Maluku, dengan produksi 2025 sebesar 21.813 ton, yang disebut sebagai produksi tertinggi di Maluku.

Selain kelapa, pemerintah daerah juga memetakan pengembangan cabai rawit di kawasan Danar Raya, Kei Kecil Timur Selatan, serta sayur-mayur di Kecamatan Kei Kecil Timur.

Namun, karakter pertanian yang didominasi lahan kering membuat sektor ini sangat bergantung pada kondisi alam dan cuaca. Dalam materi tersebut disebutkan kebutuhan pangan yang terpenuhi berada pada angka 52 persen, sehingga pengembangan komoditas spesifik desa masih menjadi kebutuhan penting.

190 desa telah membentuk KDMP

Untuk memperkuat kelembagaan ekonomi, pemerintah daerah mencatat 190 dari 190 desa telah membentuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sebanyak 25 gerai KDMP telah terbangun.

KDMP diarahkan sebagai simpul tata kelola pemasaran hasil pertanian dan perikanan, termasuk untuk mendukung pariwisata dan stabilisasi harga pangan. Selain itu, terdapat rencana pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di lima lokasi pada 2026, pengembangan kawasan wisata Ngiar Varat serta sentra UMKM desa.

Dengan demikian, koperasi desa tidak hanya ditempatkan sebagai kelembagaan administratif, tetapi diharapkan menjadi bagian dari rantai ekonomi desa—mulai dari produksi, pemasaran hingga penguatan nilai tambah.

SDM dan pemuda menjadi bagian dari strategi

Pembangunan ekonomi desa juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas masyarakat.

Pemerintah daerah menempatkan kelembagaan pemuda, kelompok pemuda, OKP, serta Linmas desa sebagai bagian dari penguatan SDM. Setiap desa disebut memiliki 3–5 kader Linmas, sehingga secara keseluruhan terdapat sekitar 570–950 kader Linmas di 190 desa.

Penguatan SDM tersebut juga dihubungkan dengan kebutuhan pelatihan bagi pemuda, Linmas, Pokdarwis, pembudidaya rumput laut, pengurus KDMP dan BUMDes.

Lima insentif daerah diarahkan untuk meningkatkan pendapatan warga

Pemkab Maluku Tenggara juga memaparkan sejumlah bentuk dukungan yang telah diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat.

Di antaranya mesin cetak kemasan yang dikelola Dekranasda untuk produk UMKM, angkutan perdesaan melalui DAK transportasi perdesaan, bantuan kelompok usaha sektor pertanian dan perikanan, bantuan modal usaha UMKM, serta festival dan kegiatan pariwisata, budaya, olahraga dan bakti sosial.

Seluruh instrumen tersebut diarahkan pada satu sasaran utama, yakni meningkatkan pendapatan masyarakat desa.

Enam kebutuhan percepatan diajukan ke pemerintah pusat

Dalam audiensi dengan Kemendesa PDTT, Pemkab Maluku Tenggara menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai penting untuk mempercepat pembangunan ekonomi desa.

Pertama, konektivitas, khususnya angkutan perdesaan dan transportasi antarpulau yang disebut terhenti sejak 2025.

Kedua, pembangunan gerai KDMP bagi 165 desa yang belum memilikinya.

Ketiga, pembangunan sarana pendukung wisata berupa air bersih, toilet, homestay dan jaringan komunikasi.

Keempat, penguatan rantai dingin berupa cold storage dan sarana KNMP di desa-desa pesisir.

Kelima, hilirisasi kelapa dan rumput laut dalam skala desa.

Keenam, peningkatan kapasitas SDM desa melalui pelatihan bagi pemuda, Linmas, Pokdarwis, pembudidaya rumput laut, pengurus KDMP dan BUMDes.

Potensi besar membutuhkan eksekusi dan kolaborasi

Paparan tersebut memperlihatkan bahwa Maluku Tenggara memiliki basis ekonomi desa yang cukup beragam: laut dan perikanan, rumput laut, kelapa, pertanian, pariwisata, UMKM hingga kelembagaan koperasi.

Namun, tantangan utama bukan semata-mata ketersediaan potensi. Akses, infrastruktur, kemampuan pengolahan, konektivitas antarpulau, kualitas SDM, pemasaran dan kepastian dukungan investasi menjadi faktor penting agar potensi tersebut benar-benar menghasilkan peningkatan pendapatan masyarakat.

Karena itu, dukungan pemerintah pusat melalui Kemendesa PDTT diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur dan ekosistem ekonomi desa, sementara pemerintah daerah, masyarakat, koperasi, pelaku UMKM dan sektor swasta perlu bergerak dalam satu rantai ekonomi yang saling terhubung.

Pesan utama materi audiensi tersebut dirangkum dalam visi “Desa Kuat, Maluku Tenggara Maju”—dengan pembangunan ekonomi yang diarahkan agar desa menjadi lebih berdaya, mandiri dan berkelanjutan..

Editor: Bruce Elang