Mengakar di Fakfak, Menembus Dunia: Pangdam Kasuari Dorong Transformasi Pala Tomandin Lewat Hilirisasi

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 02 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mengakar di Fakfak, Menembus Dunia: Pangdam Kasuari Dorong Transformasi Pala Tomandin Lewat Hilirisasi

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Di tengah hamparan kebun pala yang tumbuh menyatu dengan bentang hutan tropis Fakfak, Panglima Komando Daerah Militer XVIII/Kasuari, Christian Kurnianto Tehuteru, menanam pohon pala sebagai penanda komitmen bersama menjaga warisan rempah yang telah menjadi denyut kehidupan masyarakat Fakfak selama berabad-abad.

Penanaman pala kenangan yang berlangsung di Kampung Torea, Kabupaten Fakfak, dalam rangka kunjungan kerja Pangdam XVIII/Kasuari, bukan sekadar seremoni penghijauan. Di balik satu bibit pala yang ditanam secara simbolis di lahan seluas satu hektare itu, tersimpan pesan besar tentang masa depan ekonomi rakyat, pelestarian lingkungan, serta upaya mendorong Pala Tomandin menjadi komoditas unggulan yang mampu menembus pasar bernilai tinggi melalui riset dan hilirisasi industri.

Kegiatan yang terlaksana melalui kolaborasi antara Kodim 1803/Fakfak dan Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak itu mendapat perhatian luas karena menghadirkan visi pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Pangdam XVIII/Kasuari menegaskan bahwa masa depan komoditas pala Fakfak tidak boleh berhenti pada aktivitas budidaya semata. Menurutnya, pengembangan sektor pala harus bergerak menuju penguatan riset, inovasi teknologi, dan industri pengolahan agar manfaat ekonomi yang diperoleh masyarakat semakin besar.

“Pala Tomandin memiliki potensi luar biasa untuk menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Potensi tersebut perlu diperkuat melalui riset, inovasi, dan pengembangan industri hilir sehingga mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan berkelanjutan,” ujar Pangdam.

Ia menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, pelaku usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pengembangan pala yang modern dan kompetitif.

Menurut Pangdam, riset akan membuka jalan bagi lahirnya berbagai produk turunan pala yang memiliki daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional. Dari sektor tersebut akan tercipta peluang usaha baru, lapangan kerja yang lebih luas, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada komoditas rempah unggulan tersebut.

“Potensi ini harus dikelola bersama agar memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat, sekaligus menjadi kekuatan ekonomi baru bagi Fakfak dan Papua Barat,” katanya.

Pangdam juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Baginya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuan menjaga kelestarian alam sebagai warisan bagi generasi yang akan datang.
 

Pala Tomandin, Warisan Peradaban yang Menjaga Hutan

Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T memaparkan potensi besar Pala Tomandin yang selama ini menjadi identitas sekaligus kebanggaan masyarakat Fakfak.

Menurutnya, julukan “Kota Pala” yang melekat pada Fakfak bukan sekadar simbol geografis, melainkan representasi sejarah panjang hubungan manusia, alam, dan budaya yang telah terjalin selama ratusan tahun.

“Pala bukan hanya komoditas perdagangan. Pala adalah warisan rempah yang menyatukan budaya, menjaga hutan, serta menghidupi masyarakat dari generasi ke generasi. Menjaga pala berarti menjaga identitas Fakfak itu sendiri,” ujarnya.

Widhi menjelaskan bahwa keberadaan Pala Tomandin memiliki makna yang jauh melampaui nilai ekonominya. Dalam kehidupan masyarakat adat Fakfak, pala telah menjadi bagian dari jati diri yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Nilai tersebut tercermin dalam tradisi Meri Totora, yang memaknai pala sebagai “Ibu Kehidupan”. Tradisi itu mengandung pesan tentang rasa syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, dan tanggung jawab moral untuk menjaga alam demi generasi mendatang.

Masyarakat Fakfak juga mengenal tradisi Kera-Kera atau Sasi Pala, sebuah kearifan lokal yang mengatur waktu panen guna menjaga kualitas hasil sekaligus memastikan keberlanjutan sumber daya alam. Praktik adat tersebut menunjukkan bahwa prinsip konservasi telah hidup dan dijalankan masyarakat jauh sebelum konsep pembangunan berkelanjutan diperkenalkan secara modern.
 

Potensi Besar yang Menunggu Hilirisasi

Saat ini, perkebunan pala rakyat di Fakfak tersebar di 15 distrik dan 117 kampung, dengan luas areal mencapai sekitar 18.962 hektare. Produksi pala berkisar antara 1.800 hingga 2.000 ton per tahun dan menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 3.840 petani yang tergabung dalam 158 kelompok tani, didukung oleh jaringan pengumpul dan pedagang antar pulau.

Untuk menjaga kualitas produksi, pemerintah daerah terus mendorong penggunaan bibit unggul bersertifikat melalui kerja sama dengan lembaga perbenihan, sehingga mutu Pala Tomandin tetap terjaga dan mampu memenuhi kebutuhan pasar yang semakin kompetitif.

Meski memiliki potensi besar, Widhi mengakui tantangan utama yang masih dihadapi adalah belum optimalnya pengolahan pala di dalam daerah. Sebagian besar hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku, sementara potensi pemanfaatan daging buah pala belum tergarap maksimal.

Dari total potensi yang tersedia, pemanfaatan daging pala baru mencapai sekitar dua persen atau sekitar 47 ton. Padahal, bagian tersebut menyimpan peluang ekonomi yang sangat besar jika diolah menjadi produk bernilai tambah.

Karena itu, Dinas Perkebunan Fakfak terus mendorong pengembangan industri hilir berbasis pala melalui diversifikasi produk seperti sirup pala, manisan, selai, minuman kesehatan, produk herbal, kosmetik, kerajinan, hingga berbagai produk kreatif berbasis budaya lokal.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani, memperkuat UMKM, membuka lapangan kerja baru, sekaligus memperbesar kontribusi sektor pala terhadap perekonomian daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Menutup pemaparannya, Widhi menegaskan bahwa masa depan Fakfak tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Pala Tomandin. Karena itu, menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan pala secara berkelanjutan harus menjadi gerakan bersama seluruh pemangku kepentingan.

Di Kampung Torea hari itu, pohon pala yang ditanam Pangdam mungkin masih berupa bibit kecil. Namun pesan yang ditinggalkannya jauh lebih besar: bahwa dari hutan-hutan pala Fakfak, masa depan kesejahteraan masyarakat dapat tumbuh, berakar kuat, dan memberi manfaat lintas generasi.
 

Writter & Editor : Den