PWI dan Kemendikdasmen Perkuat Sinergi Literasi Nasional, Jurnalistik Sekolah Jadi Sorotan

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PWI dan Kemendikdasmen Perkuat Sinergi Literasi Nasional, Jurnalistik Sekolah Jadi Sorotan

Jakarta Kabarsulselindonesia.web.id — Penguatan budaya literasi, peningkatan kemampuan menulis guru, serta pengenalan dunia jurnalistik kepada pelajar menjadi sorotan dalam pertemuan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dengan jajaran pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kantor PWI Pusat, lantai 4 Gedung Dewan Pers tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan organisasi profesi wartawan dalam membangun masyarakat yang cerdas, kritis, dan memiliki budaya literasi yang kuat.

Abdul Mu’ti hadir sebagai narasumber dalam program siniar atau podcast PWI Channel. Ia disambut Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir, Sekretaris Jenderal Marthen Selamet Susanto, serta jajaran pengurus PWI Pusat.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa jurnalistik memiliki peran penting yang tidak terbatas pada penyampaian informasi. Jurnalistik juga berfungsi memberikan edukasi, memperluas wawasan, dan mencerahkan masyarakat.

“Jurnalistik itu bukan sekadar mengabarkan, tetapi juga mencerahkan, mendidik, dan sebagainya,” ujar Abdul Mu’ti.

Menurutnya, pemahaman mengenai jurnalistik perlu diperkenalkan lebih luas kepada generasi muda. Sekolah dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk menumbuhkan minat menulis, mengembangkan kreativitas, serta melatih kemampuan pelajar dalam menyampaikan gagasan secara terstruktur.

   Jurnalistik Sekolah, Ruang Tumbuhnya Generasi Kritis

Abdul Mu’ti mengemukakan gagasan agar jurnalistik dapat dikembangkan sebagai salah satu kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Melalui kegiatan tersebut, pelajar diharapkan tidak hanya belajar menulis, tetapi juga memahami cara mengumpulkan informasi, menyusun berita, memeriksa kebenaran fakta, serta menyampaikan informasi secara bertanggung jawab.

“Kalau bisa, jurnalistik masuk ekstrakurikuler. Bagus juga, karena dengan begitu kita bisa lebih banyak memiliki karya,” ungkapnya.

Gagasan tersebut dinilai relevan dengan tantangan era digital, ketika informasi beredar dengan sangat cepat dan masyarakat dituntut mampu membedakan informasi yang dapat dipercaya dari kabar yang belum terverifikasi.

Pengenalan jurnalistik sejak dini juga dapat menjadi sarana pembelajaran untuk menanamkan kedisiplinan, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menyampaikan pendapat berdasarkan fakta.

Meski demikian, pengembangan kegiatan jurnalistik di sekolah tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik, kebijakan pendidikan, serta prinsip perlindungan anak.

   PWI Didorong Ikut Menumbuhkan Minat Pelajar Menjadi Wartawan

Selain mendorong pengembangan jurnalistik di sekolah, Abdul Mu’ti berharap media massa dan organisasi profesi seperti PWI dapat mengambil bagian dalam memperkenalkan profesi wartawan kepada generasi muda.

Menurutnya, anak-anak perlu memperoleh kesempatan mengenal berbagai pilihan profesi sejak dini, termasuk profesi jurnalistik yang menuntut kemampuan berpikir kritis, kecakapan berkomunikasi, dan tanggung jawab terhadap publik.

“Saya berharap agar media, termasuk lembaga seperti PWI, dapat menumbuhkan minat para pelajar di Indonesia untuk memilih wartawan sebagai profesi,” katanya.

Abdul Mu’ti juga menyoroti semakin tingginya tuntutan profesionalisme dalam dunia jurnalistik. Karena itu, pendidikan, pelatihan, dan pengembangan kompetensi menjadi bagian penting dalam mempersiapkan wartawan yang mampu menjalankan tugasnya secara profesional.

Ia turut membagikan pengalamannya berinteraksi dengan awak media selama menjabat sebagai menteri. Menurutnya, komunikasi yang terbuka antara pejabat publik dan wartawan penting untuk mendukung penyampaian informasi kepada masyarakat.

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa profesi wartawan tetap memiliki kedudukan penting dalam kehidupan demokrasi dan pembangunan bangsa.

“Sebagai sebuah profesi, ini sangat mulia dan sangat kita perlukan. Eksistensi PWI juga sangat penting,” ujarnya.

   Akhmad Munir: Literasi dan Kemampuan Menulis Perlu Diperluas

Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir menyambut baik kunjungan Mendikdasmen dan berharap pertemuan tersebut menjadi awal penguatan sinergi antara PWI dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

“Terima kasih sudah bersilaturahmi ke PWI. Diharapkan bisa bersinergi,” kata Akhmad Munir.

Ia menilai kerja sama kedua pihak berpotensi dikembangkan melalui berbagai program peningkatan literasi, pelatihan menulis, serta penguatan kapasitas guru dan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia.

“Literasi, menulis untuk guru bisa dilakukan untuk seluruh Indonesia,” ujarnya.

Menurut Akhmad Munir, PWI tidak hanya menjalankan fungsi organisasi profesi wartawan, tetapi juga memberikan perhatian pada pendidikan dan peningkatan kompetensi anggotanya.

Ia menjelaskan bahwa PWI memiliki sekitar 40 ribu anggota. Dari jumlah tersebut, sekitar 20 ribu wartawan disebut telah mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

“UKW merupakan bagian pendidikan agar wartawan memiliki standar kompetensi,” kata Akhmad Munir.

Uji Kompetensi Wartawan menjadi salah satu instrumen untuk mengukur kemampuan profesional wartawan. Melalui peningkatan kompetensi, wartawan diharapkan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab.

PWI juga memandang penguatan literasi sebagai ruang kolaborasi yang dapat mempertemukan pengalaman praktis wartawan dengan kebutuhan dunia pendidikan, khususnya dalam membangun budaya membaca, menulis, dan berpikir kritis.

 Buku Biografi Jadi Simbol Penguatan Silaturahmi

Dalam kesempatan tersebut, Akhmad Munir menyerahkan buku biografi Ketua Umum PWI Pusat berjudul *Langkah Sunyi Menuju Puncak* kepada Abdul Mu’ti.

Pemberian buku tersebut menjadi bentuk kenang-kenangan sekaligus simbol silaturahmi antara organisasi profesi wartawan dan kementerian yang menangani pendidikan dasar dan menengah.

Pertemuan ini membuka ruang bagi pengembangan kerja sama yang lebih konkret, mulai dari pelatihan jurnalistik bagi pelajar, penguatan literasi bagi guru, hingga edukasi mengenai verifikasi informasi dan etika bermedia.

Ke depan, sinergi tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur, menjangkau berbagai daerah, serta memberikan manfaat nyata bagi sekolah, tenaga pendidik, pelajar, dan masyarakat luas.

**Penguatan literasi bukan hanya tanggung jawab sekolah, dan pendidikan jurnalistik bukan semata-mata urusan insan pers. Keduanya dapat saling melengkapi untuk membentuk generasi yang cerdas, kritis, kreatif, serta bertanggung jawab dalam menerima maupun menyampaikan informasi.**

**Editor: Bruce Elang**