Budaya Tanimbar di Persimpangan Jalan, PERMATA Malang Soroti Ancaman Kepunahan
Kabarsulsel-Indonesia.web.id. Tanimbar, — Persatuan Mahasiswa Tanimbar (PERMATA) Malang menggelar Diskusi Publik sekaligus Launching Buku dalam rangka memperingati HUT Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) ke-27, Sabtu (3/10/2026). Mengangkat tema “Budaya Tanimbar Antara Kepunahan dan Keberlanjutan”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi tentang masa depan identitas budaya daerah di tengah derasnya arus perubahan zaman.
Kegiatan yang tidak diisi tarian dan lagu hiburan semata ini justru menyajikan diskusi mendalam yang melibatkan mahasiswa, akademisi, tokoh agama, peneliti, aktivis pemuda, hingga perwakilan pemerintah daerah.
*Bukan Sekadar Euforia HUT, Tapi Refleksi Jati Diri*
Ketua Pelaksana, Boy Calvin Masombe, menyampaikan bahwa kegiatan ini sengaja dirancang berbeda dari perayaan biasa.
“Tidak ada lagu wayase, cha-cha, dan poco-poco. Kami mengadakan kegiatan yang tidak sekadar euforia HUT KKT ke-27, melainkan membuka kesadaran bersama tentang budaya Tanimbar,” ujar Boy.
Menurutnya, pembangunan daerah tidak boleh diukur hanya dari fisik dan ekonomi. Identitas serta kebudayaan masyarakat harus tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
*Pemerintah Diminta Serius Lindungi Budaya*
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan KKT, Yongky Souisa, yang hadir mewakili Pemda, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif mahasiswa di perantauan.
“Ini bukti bahwa kecintaan terhadap bumi Duan Lola tak pernah usai,” kata Yongky. Ia juga memaparkan sejumlah program yang sedang digagas pemerintah untuk mendukung pelestarian budaya lokal.
Diskusi kemudian menyoroti kenyataan memprihatinkan: budaya Tanimbar semakin tergerus. Narasumber yang hadir, Romo Gusti Yabarmase, peneliti Amo Noah, akademisi Lodwyk Wessy, S.H., M.H., serta perwakilan pemuda Kaitkan Angwarmas, sepakat mendesak kebijakan yang lebih berpihak pada kebudayaan.
Lodwyk Wessy menegaskan perlunya payung hukum konkret. “Pemerintah harus menyiapkan regulasi untuk menetapkan status desa sebagai desa adat,” ujarnya. Kurikulum berbasis budaya lokal juga disampaikan sebagai langkah mendesak agar anak muda tetap mengenal akarnya.
*Gereja Siap Menjaga Identitas*
Romo Gusti Yabarmase menyoroti peran Gereja dalam merawat kebudayaan. Ia menyampaikan arahan Uskup Amboina, Mgr. Seno Ngutra, agar pembangunan gereja di Tanimbar tetap mengedepankan nuansa budaya setempat. Selain itu, penerjemahan Kitab Suci ke dalam bahasa daerah juga sedang berlangsung.
“Gereja memberi tempat yang spesial untuk budaya,” ungkap Romo Gusti.
*Pertanyaan di Usia ke-27*
Bagi PERMATA Malang, peringatan HUT bukan sekadar perayaan bertambahnya usia daerah. Ini momen bertanya kembali: sejauh mana pembangunan Tanimbar berjalan tanpa kehilangan jati diri dan akar budayanya?
Pelestarian budaya, tegas para peserta, adalah tanggung jawab bersama pemerintah, lembaga keagamaan, akademisi, pemuda, dan masyarakat adat agar warisan leluhur tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup di masa depan. JCS

























Komentar via Facebook