1.200 Rumah Warga Malut Segera Dibedah, Sherly Tjoanda Dinilai Mulai Sentuh Luka Rakyat Kecil

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

1.200 Rumah Warga Malut Segera Dibedah, Sherly Tjoanda Dinilai Mulai Sentuh Luka Rakyat Kecil

1.200 Rumah Warga Malut Segera Dibedah, Sherly Tjoanda Dinilai Mulai Sentuh Luka Rakyat Kecil

MALUKU UTARA — Kabarsulselindonesia.web.id Sebanyak 1.200 rumah tidak layak huni (RTLH) di Maluku Utara akhirnya memasuki tahap renovasi setelah proses verifikasi penerima bantuan tahun 2026 dinyatakan rampung.

Di balik angka itu, tersimpan kenyataan pahit yang selama ini diam-diam dipikul rakyat kecil: atap bocor saat hujan datang, dinding rapuh yang nyaris roboh, hingga keluarga yang bertahun-tahun hidup dalam rumah sempit yang bahkan sulit disebut layak.

Namun hari ini, harapan mulai diketuk dari pintu-pintu rumah warga.09/05/2026

Program RTLH yang mulai berjalan ini bukan sekadar proyek tambal atap atau ganti dinding. Bagi banyak keluarga miskin, ini adalah perjuangan keluar dari hidup yang selama ini nyaris berjalan tanpa kepastian.

Ada ibu yang setiap malam harus memindahkan ember untuk menadah bocor.

Ada anak-anak yang belajar di lantai lembab dengan cahaya seadanya.

Dan ada keluarga yang bertahan dalam keterbatasan sambil berharap suatu hari bisa tinggal di rumah yang benar-benar manusiawi.

Kini, satu per satu rumah itu akan dibenahi.

Langkah ini pun mendapat sorotan positif publik terhadap kepemimpinan Sherly Tjoanda yang dinilai mulai menyentuh kebutuhan paling mendasar masyarakat kecil, yakni tempat tinggal yang layak dan aman.

Bagi warga, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat pulang, tempat anak-anak tumbuh, tempat keluarga bertahan hidup di tengah kerasnya keadaan.

Karena itu, ketika satu rumah diperbaiki, yang berubah bukan hanya bentuk bangunannya — tetapi juga harapan hidup penghuninya.

 Anak-anak bisa tidur tanpa takut hujan bocor

 Keluarga hidup lebih sehat dan aman

 Orang tua bekerja dengan lebih tenang.      

 Dan harapan yang lama retak, perlahan mulai diperbaiki

Program ini juga menjadi pesan bahwa pembangunan tidak selalu soal gedung megah atau proyek bernilai besar. Kadang, pembangunan paling penting justru dimulai dari rumah kecil milik rakyat yang selama ini nyaris terlupakan.

Publik berharap program RTLH ini benar-benar berjalan tepat sasaran dan tidak berhenti sebatas seremoni. Sebab bagi masyarakat kecil, rumah layak bukan kemewahan — melainkan hak dasar untuk hidup bermartabat.

Pelan-pelan, Maluku Utara sedang membangun lebih dari sekadar rumah.

Daerah ini sedang membangun kembali harapan rakyatnya yang lama nyaris runtuh.

(*****)