Selamatkan Pala Tomandin dari Kekeringan, Dinas Perkebunan Fakfak Siapkan Basis Data Rehabilitasi 2027

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 06 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Selamatkan Pala Tomandin dari Kekeringan, Dinas Perkebunan Fakfak Siapkan Basis Data Rehabilitasi 2027

Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Kekeringan yang menyelimuti sejumlah kawasan perkebunan pala di Kabupaten Fakfak tak sekadar mengeringkan tanah. Ia menguji daya tahan komoditas yang selama ini menjadi identitas sekaligus penopang ekonomi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Fakfak melalui Dinas Perkebunan mulai menyiapkan langkah lebih jauh. Pendataan petani dan kebun pala yang terdampak kekeringan akibat kemarau berkepanjangan dan fenomena El Niño digencarkan sebagai fondasi penyusunan Program Rehabilitasi Tanaman Pala Tahun 2027.

Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, ST, MT, menempatkan pendataan sebagai pekerjaan penting sebelum pemerintah menentukan bentuk intervensi. Baginya, rehabilitasi tidak boleh dibangun dari perkiraan, melainkan dari kondisi kebun yang benar-benar terukur.

“Tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan Pala Tomandin Fakfak. Saat ini yang paling penting adalah kita memiliki data yang benar, lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan. Dari data itulah pemerintah dapat menyusun program rehabilitasi yang tepat sasaran,” ujar Widhi.

Karena itu, Dinas Perkebunan mengajak petani pala, Kepala Kampung, serta Ketua Kelompok Tani Pala ikut menjadi bagian dari proses tersebut. Petani yang kebunnya terdampak diminta segera melaporkan kondisi tanamannya kepada petugas pendataan, Kepala Kampung, atau Ketua Kelompok Tani di wilayah masing-masing.

Petani diminta menyiapkan KTP, foto kebun yang terdampak berikut koordinat lokasi, serta informasi jumlah pohon pala yang mengalami dampak kekeringan. Data tersebut diperlukan agar pemerintah dapat memetakan lokasi, jumlah tanaman, sekaligus tingkat kerusakan secara lebih akurat.

Widhi menilai Kepala Kampung dan Ketua Kelompok Tani memiliki posisi strategis karena paling dekat dengan masyarakat. Mereka diharapkan tidak sekadar meneruskan informasi, tetapi membantu mengorganisasi, menghimpun, dan memverifikasi data petani di lapangan sehingga tidak ada kebun terdampak yang luput dari perhatian pemerintah.

“Kami mengajak para petani pekebun pala untuk tidak menunggu tanaman semakin rusak. Laporkan kondisi kebun kepada pemerintah melalui petugas, Kepala Kampung maupun Ketua Kelompok Tani pala. Data ini akan menjadi dasar bagi kita untuk melihat kebutuhan rehabilitasi tanaman pala ke depan,” katanya.

Di tengah ancaman kekeringan dan meningkatnya risiko kebakaran, Dinas Perkebunan juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan kebun. Pembakaran di kawasan perkebunan dinilai dapat memperbesar risiko kerusakan tanaman dan lingkungan, terutama ketika kondisi lahan sedang kering.

“Jangan membakar. Jangan mempertaruhkan masa depan. Api dapat merusak tanaman pala, membahayakan lingkungan dan memperparah kondisi kebun di tengah musim kemarau,” tegas Widhi.

Menurut dia, penyelamatan Pala Tomandin tidak mungkin dibebankan hanya kepada pemerintah. Petani, kelompok tani, pemerintah kampung, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu bergerak dalam satu barisan. Pendataan menjadi langkah awal untuk memastikan upaya rehabilitasi 2027 kelak benar-benar menjawab kebutuhan kebun dan petani di lapangan.

“Mari kita jaga kebun pala kita. Lindungi tanaman, laporkan kondisi kebun, lengkapi data, dan bangun kolaborasi. Kita ingin Pala Tomandin tetap tumbuh, tetap lestari dan tetap menjadi kebanggaan Fakfak,” ujar Widhi.

Bagi Dinas Perkebunan, data bukan sekadar deretan angka dalam dokumen perencanaan. Di balik setiap titik koordinat terdapat kebun, tanaman, dan kehidupan petani yang perlu diselamatkan. Karena itu, keberhasilan pendataan hari ini akan menentukan seberapa tepat pemerintah membaca kebutuhan rehabilitasi Pala Tomandin pada 2027.

Menyelamatkan Pala Tomandin, pada akhirnya, bukan pekerjaan satu pihak. Ia adalah kerja bersama dimulai dari satu kebun yang dilaporkan, satu data yang diverifikasi, dan satu komitmen untuk memastikan pala tetap hidup di tanah Fakfak.
 

Writter & Editor : Den