BANTI 2 DARURAT AIR BERSIH: DI BAWAH BAYANG-BAYANG TAMBANG RAKSASA, WARGA BERJUANG SETETES AIR
BANTI 2 DARURAT AIR BERSIH: DI BAWAH BAYANG-BAYANG TAMBANG RAKSASA, WARGA BERJUANG SETETES AIR
Tembagapura, Kabarsulselindonesia.web.id – Di tengah berdirinya salah satu kawasan pertambangan terbesar di dunia, jeritan masyarakat Banti 2 kini menggema. Ratusan warga terpaksa mengantre dengan ember dan jerigen demi mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Sebuah ironi pahit ketika masyarakat yang hidup di wilayah kaya sumber daya alam justru mengalami krisis kebutuhan paling mendasar: air bersih.22/06/2026
Krisis ini disebut terjadi setelah jaringan pipa air mengalami kerusakan akibat dampak bencana longsor yang menyebabkan distribusi air ke pemukiman warga terganggu. Namun persoalan tidak berhenti pada terputusnya pasokan. Warga juga meminta adanya kepastian mengenai keamanan dan kualitas air yang mereka gunakan, termasuk melalui pemeriksaan laboratorium secara independen terhadap dugaan adanya pencemaran.
“Ini bukan sekadar persoalan pipa rusak. Ini menyangkut kesehatan, keselamatan, dan hak hidup masyarakat,” tegas perwakilan warga Banti 2.
Masyarakat menilai bahwa perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah tersebut memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk merespons cepat penderitaan warga. Program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dinilai harus hadir bukan hanya dalam bentuk laporan dan seremoni, tetapi juga melalui tindakan nyata saat masyarakat menghadapi keadaan darurat.
Tiga Tuntutan Tegas Masyarakat Banti 2
1. Perbaikan Darurat Infrastruktur Air
Warga meminta PT Freeport Indonesia segera memperbaiki jaringan pipa yang rusak dan memastikan akses air bersih kembali tersedia secepatnya.
2. Pengujian Kualitas Air Secara Transparan
Masyarakat meminta keterlibatan lembaga independen atau instansi kesehatan untuk melakukan pengujian laboratorium terhadap kualitas air dan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada publik.
3. Dialog Terbuka dengan Warga
Masyarakat mendesak adanya pertemuan langsung antara pihak perusahaan, pemerintah, dan warga untuk membahas solusi jangka pendek maupun jangka panjang terkait keberlanjutan akses air bersih dan perlindungan lingkungan.
Krisis yang terjadi di Banti 2 menjadi pengingat bahwa kemajuan industri harus berjalan seiring dengan perlindungan hak masyarakat sekitar. Di tengah keuntungan dan kemajuan teknologi pertambangan, tidak boleh ada satu pun warga yang harus berjuang hanya untuk mendapatkan setetes air yang aman dan layak dikonsumsi.
Dianu Omaleng
Kaum Intelektual Waa Banti
Editor : Bruce Elang

























Komentar via Facebook