Dari Sekolah ke Kebun: Fakfak Luncurkan Pala Tomandin Grafting, Menyemai Masa Depan dari Inovasi
Fakfak, KabarsulselIndonesia.web.id | Pemerintah Kabupaten Fakfak memanfaatkan momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 untuk menautkan dua hal yang selama ini berjalan sendiri-sendiri: pendidikan dan sektor perkebunan.
Sabtu, 2 Mei 2026, di SMA Negeri 2 Fakfak, Dinas Perkebunan meluncurkan program Pala Tomandin Grafting sekaligus pemanfaatan TOP Hayati Tekno Papua sebuah langkah yang diniatkan sebagai fondasi baru pembangunan ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.
Kepala Dinas Perkebunan Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T menegaskan bahwa peluncuran ini bukan sekadar seremoni teknologi pertanian. Ia menyebutnya sebagai bagian dari upaya membangun masa depan pala Fakfak melalui pendekatan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pendidikan kontekstual.
“Hari ini kita tidak hanya menanam bibit pala, tetapi juga menanam cara berpikir baru,” kata Widhi di hadapan pelajar, guru, dan sejumlah pejabat daerah.
Program Pala Tomandin Grafting diperkenalkan sebagai teknik rekayasa vegetatif untuk mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan kualitas bibit, serta memperkuat ketahanan pala unggul Fakfak.
Metode ini diharapkan mampu memangkas waktu produksi dibanding pola budidaya konvensional yang selama ini masih dominan digunakan petani.
Di saat yang sama, penggunaan TOP Hayati Tekno Papua diarahkan untuk memperbaiki kualitas tanah secara alami. Teknologi ini bekerja dengan meningkatkan aktivitas mikroorganisme bermanfaat, memperkuat sistem perakaran, dan menjaga keseimbangan ekosistem tanah sebuah pendekatan yang lebih ramah lingkungan sekaligus berkelanjutan.
Bagi pemerintah daerah, kombinasi dua inovasi tersebut bukan sekadar peningkatan teknik budidaya, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga posisi pala sebagai identitas ekonomi Fakfak.
Namun, yang membedakan program ini dari inisiatif sebelumnya adalah pendekatannya terhadap dunia pendidikan. Dinas Perkebunan mendorong agar pala tidak lagi hanya menjadi komoditas kebun, melainkan masuk ke ruang kelas sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah.
Widhi mengusulkan agar siswa sejak dini dikenalkan pada sejarah pala Fakfak, teknik budidaya modern, hingga potensi ekonomi dan inovasi produk turunannya.
Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan lulusan akademik, tetapi juga generasi yang memahami dan siap mengembangkan potensi daerahnya.
Gagasan itu diterjemahkan lebih konkret melalui rencana pembentukan kebun edukasi pala di lingkungan sekolah. Di sana, siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung mulai dari grafting, penggunaan pupuk hayati, hingga pengolahan hasil pala.
“Jika ini berjalan konsisten, kita bisa melahirkan petani milenial, inovator, bahkan eksportir pala dari ruang-ruang kelas,” ujar Widhi.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan regenerasi di sektor perkebunan, yang selama ini dihadapkan pada minimnya minat generasi muda. Dengan membawa pala ke dalam sistem pendidikan, pemerintah berharap terjadi pergeseran persepsi: dari sektor tradisional menjadi bidang yang menjanjikan masa depan.
Peluncuran program ini juga menandai dimulainya Gerakan Bersama (GERTAK) Fakfak sebuah inisiatif kolektif yang mencakup gerakan penanaman bibit unggul, penguatan inovasi, serta pembangunan kapasitas generasi muda.
Di tengah perubahan iklim ekonomi dan tekanan global terhadap komoditas, Fakfak tampak memilih jalan yang tidak biasa: membangun masa depan dari akar secara harfiah dan simbolik. Dari tanah yang sama, mereka berharap tumbuh bukan hanya pohon pala yang lebih produktif, tetapi juga generasi yang lebih siap mengelola warisan itu.
Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan ditentukan bukan oleh jumlah bibit yang ditanam hari ini, melainkan oleh sejauh mana pengetahuan tentang pala hidup dalam pikiran generasi berikutnya.
Writter : Den | Editor : Den

























Komentar via Facebook