DARAH TERUS TUMPAH!” Pemuda Mimika Nyalakan Alarm Kemanusiaan untuk Narlince Wamang: Tembagapura Bukan Medan Perang

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 10 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

DARAH TERUS TUMPAH!” Pemuda Mimika Nyalakan Alarm Kemanusiaan untuk Narlince Wamang: Tembagapura Bukan Medan Perang

“DARAH TERUS TUMPAH!” Pemuda Mimika Nyalakan Alarm Kemanusiaan untuk Narlince Wamang: Tembagapura Bukan Medan Perang

MIMIKA Kabarsulselindonesia.web.id Tangis dan amarah pecah di Mimika. Rentetan konflik bersenjata yang terus menghantui Papua kembali memakan korban. Kali ini, nama Narlince Wamang menjadi simbol luka baru yang mengguncang nurani warga.10/05/2026

Di tengah ketakutan yang terus membayangi masyarakat sipil di Tembagapura, Pemuda Muslim Mimika akhirnya angkat suara keras. Mereka menyerukan aksi doa bersama dan bakar lilin sebagai bentuk penghormatan untuk almarhumah Narlince Wamang sekaligus seruan moral menghentikan pertumpahan darah yang terus terjadi di tanah Papua.

“Ini alarm kemanusiaan. Tembagapura bukan medan perang,” demikian seruan yang digaungkan dalam ajakan aksi tersebut.

Bagi para pemuda, kematian Narlince bukan sekadar kabar duka biasa. Peristiwa itu disebut menjadi bukti bahwa rakyat sipil terus berada di garis paling rentan dalam konflik yang berkepanjangan. Ketika suara senjata terus berbicara, warga kecil justru menjadi pihak yang paling banyak menanggung trauma.

Anak-anak tumbuh dalam ketakutan. Orang tua hidup dihantui kecemasan. Sementara tanah yang seharusnya menjadi ruang kehidupan perlahan berubah menjadi wilayah penuh luka.

Pemuda Mimika menegaskan bahwa aksi doa dan bakar lilin bukan hanya bentuk belasungkawa, tetapi simbol perlawanan moral terhadap situasi yang dianggap semakin mengkhawatirkan. Mereka mengajak seluruh elemen masyarakat, lintas agama dan suku, untuk berdiri bersama menyuarakan kemanusiaan.

“Stop perang. Warga jaga warga,” menjadi pesan kuat yang kini menggema dari Mimika.

Di tengah konflik yang belum menemukan ujung, satu hal mulai terdengar semakin lantang dari rakyat Papua: jangan lagi ada nyawa sipil yang jatuh hanya karena tanah mereka tak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk damai.

(*****)