Laporan Mewah, Sekolah Nyaris Roboh”

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 21 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Laporan Mewah, Sekolah Nyaris Roboh”

“Laporan Mewah, Sekolah Nyaris Roboh”

Dana BOS di Mimika Disorot: Administrasi Dipoles, Derita Sekolah Diduga Disembunyikan

Mimika Kabarsulselindonesia.web.id — Di atas meja birokrasi, laporan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) terlihat nyaris sempurna. Serapan anggaran tinggi, SPJ lengkap, tanda tangan beres, stempel tak kurang satu pun. Semua tampak tertib dan meyakinkan.

Namun di balik tumpukan berkas yang terlihat indah itu, banyak sekolah justru masih hidup dalam keterbatasan yang memalukan.

Atap ruang kelas bocor.

Toilet siswa rusak dan tak layak pakai.

Buku pelajaran minim.

Komputer sekolah mati tanpa perawatan.

Guru honor terus diperas tenaga dan pengabdiannya dengan bayaran yang jauh dari kata manusiawi.

Ironisnya, penderitaan itu nyaris tak pernah muncul dalam laporan resmi.

Kritik pedas itu dilontarkan oleh salah satu warga dalam refleksinya bertajuk “Antara Laporan yang Indah dan Realita yang Luka” yang disampaikan dalam percakapan Group VK.88 LAW OFFICE pukul 12.30 WIT.

Menurutnya, pengelolaan dana BOS hari ini diduga lebih sibuk mempercantik administrasi dibanding menyelamatkan kualitas pendidikan.

“Sekolah dipaksa ahli membuat laporan terlihat bersih, bukan memastikan dana benar-benar menyentuh kebutuhan siswa,” tegasnya.

Ia menilai pola pengawasan yang dijalankan selama ini terlalu administratif dan miskin keberanian untuk melihat langsung kondisi nyata sekolah.

Akibatnya, yang tumbuh bukan budaya transparansi, melainkan kepatuhan semu dan dugaan manipulasi yang dibungkus dokumen resmi.

Sorotan paling tajam diarahkan kepada Inspektorat Kabupaten Mimika yang dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan secara substansial.

Inspektorat disebut lebih sibuk memeriksa map, kuitansi, dan tanda tangan dibanding memeriksa apakah siswa benar-benar belajar dalam fasilitas yang layak.

“Kalau pengawasan hanya berhenti di meja administrasi, maka yang dipelihara bukan mutu pendidikan, tetapi sandiwara birokrasi,” kritik sumber

Ia bahkan menilai miliaran rupiah dana pendidikan yang turun dari pusat berpotensi kehilangan makna karena pengawasan hanya dijalankan sebagai ritual formalitas tahunan.

Laporan terlihat hebat.

Tetapi sekolah tetap menjerit.

Anak-anak tetap belajar di ruang yang rusak.

Guru honor tetap hidup dalam ketidakpastian.

Dan fasilitas pendidikan tetap tertinggal jauh dari kata layak.

“Bantuan pusat datang atas nama masa depan bangsa, tetapi di lapangan banyak sekolah seperti dibiarkan bertahan sendiri,” ujarnya.

Pernyataan itu menjadi tamparan keras terhadap sistem pengawasan pendidikan di daerah yang dinilai terlalu nyaman dengan angka-angka laporan, tetapi gagal membaca penderitaan nyata di ruang kelas.

Sebab pendidikan tidak pernah bisa diselamatkan hanya dengan laporan yang cantik.

Pendidikan hanya akan hidup ketika anggaran benar-benar berubah menjadi buku di tangan siswa, ruang kelas yang aman, fasilitas yang berfungsi, dan penghargaan yang layak bagi para guru yang selama ini terus bertahan di tengah keterbatasan.

Editor: Bruce Elang