Mile 69 Kembali Berdarah, Tangisan Pecah di Mimika: “Sampai Kapan Rakyat Sipil Jadi Korban?”

Avatar photo

Kabar Sulsel - Admin

, 09 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mile 69 Kembali Berdarah, Tangisan Pecah di Mimika: “Sampai Kapan Rakyat Sipil Jadi Korban?”

Mile 69 Kembali Berdarah, Tangisan Pecah di Mimika: “Sampai Kapan Rakyat Sipil Jadi Korban?”

MIMIKA- Kabarsulselindonesia.web.id Tanah Tembagapura kembali diselimuti duka. Insiden berdarah yang terjadi di kawasan Mile 69 memicu gelombang kemarahan dan ketakutan masyarakat setelah jatuhnya korban jiwa kembali menyeret rakyat sipil ke tengah situasi keamanan yang terus menghantui Mimika.

Tangisan keluarga korban pecah. Warga diliputi kecemasan. Di tengah kerasnya aktivitas industri tambang dan gemerlap kekayaan alam Papua, rakyat kecil justru kembali dipaksa menghadapi kenyataan pahit: hidup tanpa rasa aman di tanah sendiri.10/05/2026

Peristiwa ini kembali membuka luka lama yang belum pernah benar-benar sembuh. Masyarakat menilai tragedi demi tragedi terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas, sementara rakyat sipil menjadi pihak yang paling sering menanggung dampaknya.

“Kami capek hidup dalam ketakutan. Setiap kali ada insiden, rakyat kecil yang jadi korban,” ungkap salah satu warga dengan nada geram.

Gelombang protes dan seruan kemanusiaan mulai bermunculan dari berbagai elemen masyarakat. Mereka menuntut negara hadir memberikan perlindungan nyata, bukan sekadar pernyataan belasungkawa setiap kali nyawa melayang.

Suara publik pun mulai terdengar semakin keras:

Sampai kapan rakyat sipil terus menjadi korban konflik dan kekerasan?

Sampai kapan masyarakat Papua hidup di bawah bayang-bayang rasa takut?

Dan sampai kapan setiap tragedi hanya berakhir dengan duka tanpa kejelasan?

Masyarakat Mimika menegaskan bahwa mereka tidak ingin daerahnya terus dikenal sebagai wilayah penuh darah dan ketegangan. Di balik kekayaan alam yang luar biasa, warga hanya menginginkan satu hal sederhana: hidup damai tanpa ancaman peluru dan kekerasan.

“Rakyat hanya ingin bekerja dengan tenang, anak-anak sekolah tanpa takut, dan keluarga bisa hidup normal tanpa dihantui maut,” tegas salah satu tokoh masyarakat.

Insiden Mile 69 kini menjadi pengingat keras bahwa persoalan keamanan di Mimika bukan lagi sekadar angka statistik atau laporan insiden semata, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyentuh kehidupan rakyat setiap hari.

Publik mendesak agar seluruh pihak menahan diri dan mengutamakan keselamatan warga sipil. Sebab bagi masyarakat Papua, nyawa manusia tidak boleh terus menjadi harga yang dibayar di tengah konflik yang tak kunjung selesai.

(*****)